Munculnya kembali kasus Cacar Monyet atau Mpox (sebelumnya dikenal sebagai Monkeypox) di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, telah menciptakan kewaspadaan baru dan menyoroti kerentanan sistem kesehatan dalam menghadapi penyakit menular yang bersifat zoonosis. Ancaman Kesehatan Publik ini tidak hanya menuntut respons cepat dalam penemuan dan isolasi kasus, tetapi juga edukasi yang masif kepada masyarakat mengenai cara penularan dan pencegahan. Ancaman Kesehatan Publik dari Mpox berbeda dengan COVID-19 dari segi kecepatan penularan, namun tetap berpotensi menimbulkan outbreak jika tidak ditangani dengan serius, terutama di populasi rentan. Strategi penanganan harus fokus pada pengawasan epidemiologi yang ketat dan ketersediaan vaksin spesifik.
Dinamika Kasus dan Pengawasan Epidemiologi
Di Indonesia, penanganan kasus Mpox berada di bawah pengawasan ketat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) daerah. Kasus-kasus yang terdeteksi, meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan penyakit endemik lainnya, memerlukan penelusuran kontak yang cermat. Penyakit ini menular melalui kontak fisik yang sangat erat, termasuk kontak kulit ke kulit dengan lesi ruam penderita, atau melalui droplet pernapasan dalam jangka waktu lama.
Sebagai contoh spesifik, Dinkes DKI Jakarta pada Selasa, 12 Agustus 2025, mengumumkan penemuan kasus Mpox baru yang ke-5 di wilayah Jakarta Selatan. Setelah penemuan kasus tersebut, Puskesmas Kecamatan Setiabudi segera melakukan penelusuran kontak terhadap 20 orang yang pernah berinteraksi erat dengan pasien dalam kurun waktu 21 hari terakhir. Seluruh kontak erat tersebut kemudian dipantau gejalanya dan diberikan edukasi pencegahan. Laporan Kemenkes per tanggal tersebut menunjukkan bahwa upaya surveillance aktif telah berhasil mendeteksi dan mengisolasi semua kasus yang dikonfirmasi, mencegah penyebaran yang lebih luas. Pengawasan yang transparan dan cepat adalah benteng pertama melawan Ancaman Kesehatan Publik ini.
Strategi Pencegahan dan Vaksinasi
Strategi pencegahan Mpox di Indonesia difokuskan pada dua hal: perubahan perilaku dan vaksinasi yang tertarget. Karena penularan utamanya adalah melalui kontak fisik yang erat, edukasi mengenai praktik aman dan higienis menjadi sangat penting.
Pemerintah juga mulai mengimpor vaksin spesifik Mpox generasi ketiga, yang dikenal memiliki efikasi tinggi dan efek samping minimal. Vaksinasi diarahkan secara spesifik pada kelompok berisiko tinggi (high-risk groups) dan petugas kesehatan yang menangani pasien Mpox. Proses pengadaan vaksin ini difasilitasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang telah mengeluarkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization) pada Januari 2025 untuk vaksin yang didatangkan dari Eropa.
Selain itu, kerja sama antar lembaga juga penting. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), melalui Bhabinkamtibmas di tingkat kelurahan, turut berperan dalam sosialisasi pencegahan dan memastikan bahwa pasien yang menjalani isolasi mandiri mematuhi protokol kesehatan agar tidak menularkan ke orang lain. Sosialisasi ini, yang dilakukan pada hari Jumat di berbagai fasilitas umum, menekankan bahwa Mpox dapat dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat serta menghindari kontak fisik yang tidak aman dengan orang yang berisiko. Menjaga kewaspadaan kolektif dan respons yang terkoordinasi akan membantu meminimalkan risiko Ancaman Kesehatan Publik dari Mpox.
