Kabupaten Banggai di Sulawesi Tengah memiliki wilayah perairan yang sangat potensial bagi pengembangan sektor kelautan, di mana aktivitas budidaya rumput laut kini menjadi pilihan populer sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarga nelayan. Selama ini, nelayan sering kali mengalami ketidakpastian ekonomi akibat faktor cuaca atau musim ikan yang tidak menentu. Dengan memanfaatkan area pesisir yang tenang, mereka bisa mengelola komoditas ini tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama sebagai penangkap ikan di laut dalam. Rumput laut tidak hanya mudah untuk dirawat, tetapi juga memiliki permintaan pasar yang stabil di industri pangan, farmasi, hingga kosmetik global.
Salah satu keunggulan utama dari budidaya rumput laut di Banggai adalah kebutuhan modal operasional yang relatif terjangkau bagi masyarakat pesisir. Nelayan hanya membutuhkan bibit berkualitas, tali, pelampung dari botol bekas, dan bambu sebagai kerangka utama. Waktu panen yang tergolong singkat, yakni sekitar 45 hari, membuat perputaran uang menjadi lebih cepat dibandingkan dengan sektor pertanian di darat. Dengan pembagian waktu yang tepat, para istri nelayan juga bisa ikut membantu proses pengikatan bibit dan penjemuran, sehingga keterlibatan seluruh anggota keluarga menciptakan ketahanan ekonomi rumah tangga yang lebih mandiri dan tangguh terhadap guncangan harga kebutuhan pokok.
Namun, untuk memaksimalkan hasil dari budidaya rumput laut, nelayan harus sangat memperhatikan faktor lingkungan dan kebersihan air di sekitar lokasi tanam. Limbah plastik dan pencemaran air dapat merusak kualitas thallus rumput laut dan memicu penyakit “ice-ice” yang merugikan. Edukasi mengenai cara tanam yang baik dan pemilihan bibit unggul secara terus-menerus dilakukan oleh penyuluh perikanan di Banggai. Kesadaran untuk menjaga kelestarian laut menjadi kunci keberhasilan jangka panjang; karena semakin jernih dan sehat perairan mereka, semakin tinggi pula kandungan karagenan dalam rumput laut yang dihasilkan, yang secara otomatis akan menaikkan harga jual di tingkat pengepul maupun pabrik pengolahan.
Pemerintah daerah dan pihak swasta kini mulai didorong untuk membangun rantai pasok yang lebih adil bagi para pelaku budidaya rumput laut di wilayah Banggai. Selama ini, nelayan sering kali berada di posisi lemah saat bernegosiasi harga karena kurangnya akses informasi pasar dan fasilitas penyimpanan yang memadai. Dengan pembentukan koperasi nelayan dan penyediaan gudang pengering yang higienis, kualitas produk akhir dapat terjaga dan nilai tawarnya meningkat. Langkah hilirisasi sederhana, seperti pengolahan menjadi kerupuk atau tepung agar-agar di tingkat lokal, juga mulai dirintis untuk memberikan nilai tambah ekonomi daripada hanya menjual rumput laut kering dalam bentuk bahan mentah ke luar daerah.
