Tradisi Ariyaya Ngawis merupakan warisan budaya luhur yang masih lestari di Dusun Rejosari, Kapanewon Ngawis, Gunungkidul. Lebih dari sekadar perayaan menjelang Idul Fitri, tradisi ini diyakini kuat menyimpan jejak dakwah Wali Sanga, para penyebar agama Islam di tanah Jawa. Melalui ritual dan simbol-simbol yang terkandung di dalamnya, Ariyaya Ngawis menjadi pengingat akan sejarah dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para wali.
Secara harfiah, “Ariyaya” berarti perayaan atau hari raya, sementara “Ngawis” merujuk pada nama daerah tempat tradisi ini dilaksanakan. Dalam konteks tradisi ini, Ariyaya Ngawis merupakan perayaan sekaligus ritual slametan atau kenduri sebagai rasa syukur menutup bulan Ramadan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Prosesi Ariyaya Ngawis di Dusun Rejosari biasanya melibatkan serangkaian kegiatan yang sederhana namun khidmat. Masyarakat berkumpul di musala dan membawa aneka makanan seperti nasi tumpeng, gudangan urap, dan apem. Makanan-makanan ini bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga memiliki simbol dan filosofi tersendiri. Gudangan urap melambangkan persatuan dan kesamaan manusia di hadapan Allah, sedangkan apem melambangkan permohonan maaf kepada Sang Pencipta.
Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan antar warga. Masyarakat berkumpul, berbagi makanan, dan memanjatkan doa bersama sebagai ungkapan syukur. Tradisi ini menjadi perekat sosial yang kuat dan menjaga nilai-nilai kebersamaan.
Pelestarian tradisi Ariyaya Ngawis memiliki peran penting dalam menjaga memori kolektif masyarakat tentang sejarah Islam di Jawa dan peran sentral Wali Sanga. Masyarakat setempat meyakini bahwa tradisi ini merupakan peninggalan para wali yang berakulturasi dengan budaya Jawa agar ajaran Islam dapat diterima.
Dengan demikian, Ariyaya Ngawis bukan hanya sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah manifestasi nyata dari pelestarian jejak dakwah Wali Sanga di Gunungkidul. Tradisi ini terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Dusun Rejosari, Ngawis.
Tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan informal bagi generasi muda mengenai nilai-nilai gotong royong dan spiritualitas yang diwariskan oleh para leluhur.
Semoga artikel ini dapat memberikan informasi dan manfaat untuk para pembaca, terimakasih !
